Bagaimana Efektivitas Vaksin Corona Sinovac Yang Tiba Di Indonesia?

Written by Lesai on February 13, 2021 in LIP with no comments.

Pengembang jenis vaksin covid-19 ini sendiri menggunakan virus yang biasanya menginfeksi simpanse dan melalui proses modifikasi secara genetik untuk menghindari penyakit pada manusia. Sudah lama ada dan biasanya memiliki fungsi yang baik juga untuk melawan HIV, Ebola, dan Malaria. Ibu hamil yang berisiko tinggi terpapar COVID-19 atau yang memiliki kondisi tertentu yang memperbesar risikonya mengalami sakit parah, dapat menerima vaksinasi setelah berkonsultasi dengan dokter atau bidan yang menanganinya.

Lima vaksin tersebut yaitu Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, dan yang terakhir Pfizer. Untuk pembuatan vaksin Covid-19 sendiri, Dirga mengungkapkan, Organisasi Kesehatan Dunia menerapkan standar efektivitas vaksin virus corona yakni 50 persen. Jika saat peredaranya di masyarakat muncul efek samping maka vaksin akan ditarik kembali. “Dari uji klinis fase 3 ini nantinya bisa dilihat apakah itu cukup aman dan bisa membangun antibodi untuk bisa melindungi orang Indonesia atau tidak,”terangnya saat dihubungi Kamis (23/7). Amerika Serikat juga ngebut memerangi pandemi Covid-19, setelah terganjal beberapa bulan oleh politik Trump.

Apakah vaksin covid efektif

Vaksin Johnson & Johnson adalah vaksin COVID-19 ketiga yang diizinkan untuk penggunaan darurat di Amerika Serikat. Ditemukan bahwa virus uji dengan protein lonjakan B.1.1.7 dinetralkan dengan cara yang mirip dengan versi sebelumnya dari virus corona. Sedangkan peserta yang menerima dosis ketiga sebagai booster yang disuntikkan sekitar enam bulan setelah dosis kedua, antibodi mereka meningkat tiga sampai lima kali lipat. Namun, untuk mempertahankan efek maksimal dari vaksin ini, vaksinasi harus diulang setiap 10 tahun setelah pemberian pada masa bayi dan kanak-kanak. Pengajar pada Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Divisi Epidemiologi dan Biostatistika FK Unpad ini menjelaskan, vaksin yang sampai saat ini paling efektif dalam sejarah adalah vaksin untuk mencegah penyakit cacar . Jika mereka yang mendapat vaksin Covid-19 jauh lebih sedikit mengalami sakit dibandingkan dengan mereka yang mendapat vaksin kosong dan secara statistik perbedaannya signifikan, maka vaksin tersebut efektif dalam situasi penelitian.

• Vaksin virus yang diinaktivasi atau dilemahkan, yang menggunakan bentuk virus yang telah diinaktivasi atau dilemahkan sehingga tidak menyebabkan penyakit, tetapi masih menimbulkan respons sistem imun. Namun, untuk saat ini kita belum bisa memastikan apakah atau kapan suatu vaksin COVID-19 akan tersedia. • Serangkaian kajian independen atas bukti efikasi dan keamanan perlu dilakukan, Situs Slot Gacor termasuk kajian dan persetujuan regulator di negara di mana vaksin ini diproduksi, sebelum WHO mempertimbangkan prakualifikasi untuk suatu produk vaksin. Sebagian proses ini juga melibatkan Global Advisory Committee on Vaccine Safety . Dalam eksperimen laboratorium, peneliti melaporkan kalau vaksin Pfizer-BioNTech kehilangan beberapa potensinya dalam melawan varian baru ini.

Setelah suatu vaksin COVID-19 mulai diberikan, WHO akan mendukung kerja sama dengan pembuat vaksin, pejabat kesehatan di setiap negara, dan mitra-mitra lain untuk memantau setiap kekhawatiran keamanan secara berkelanjutan. • Vaksin RNA dan DNA, sebuah pendekatan canggih yang menggunakan RNA atau DNA yang direkayasa genetik untuk menghasilkan protein yang memulai respons sistem imun dengan aman. WHO bekerja sama dengan para mitra di seluruh dunia untuk mempercepat setiap langkah di dalam proses ini, sambil memastikan bahwa standar-standar keamanan tertinggi dipenuhi. Beberapa waktu ini ada laporan sementara bahwa salah satu vaksin Covid-19 yang efektivitasnya disebut lebih dari 90% dalam tujuh hari evaluasi sesudah penyuntikan kedua.

Sesuai saran WHO, vaksin dapat ditawarkan kepada ibu menyusui yang juga termasuk kelompok prioritas vaksinasi—contohnya, ibu menyusui yang juga seorang tenaga kesehatan. Pemberian ASI dapat dilanjutkan setelah vaksinasi; ASI tetap merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit dan membantu mereka agar tetap sehat. Vaksin bekerja dengan cara meniru agen penyakit—baik berupa virus, bakteri, maupun mikroorganisme lain yang bisa menyebabkan penyakit. Dengan meniru, vaksin ‘mengajarkan’ sistem kekebalan tubuh kita untuk secara spesifik bereaksi dengan cepat dan efektif melawan agen penyakit. Di Cina, uji coba fase I / II dilakukan dengan hasil yang menunjukkan kandidat vaksin dapat menginduksi antibodi penawar di antara lebih dari 90% relawan yang menerima dua dosis vaksinasi pada orang dewasa dan orang tua. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan satu intervensi kesehatan saja.

Sebesar seventy eight,02 persen dari hasil data engukuran imunogenitas vaksin setelah 14 hari penyuntikan dosis ke-2, 98,09 persen orang dewasa dan 97,62 persen lansia mengalami pembentukan antibodi. Vaksin yang telah melalui tahap modifikasi dari adenovirus yang tidak berbahaya. Ketika protein itu mencapai sel-sel tubuh, sistem kekebalan memasang pertahanan, menciptakan antibodi dan sel-sel memori untuk melindungi terhadap infeksi SARS-Cov2 yang sebenarnya. Para ahli di seluruh dunia terus mempelajari dampak varian baru terhadap perilaku virus, termasuk potensi dampaknya terhadap efektivitas vaksin COVID-19. Pengembangan vaksin COVID-19 yang aman dan efektif adalah langkah penting dalam upaya global untuk mengakhiri pandemi, agar masyarakat dapat kembali berkegiatan seperti biasa dan bertemu dengan keluarga serta kerabat tercinta. Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan nama-nama baru untuk varian virus corona SARS-CoV-2 yang terdeteksi di berbagai negara.

Lalu, fase 3 ini dilakukan pada populasi yang spesifik akan dilindungi yakni Indonesia, dilihat cukup aman dan bisa melindungi atau tidak. Kalau ternyata hasilnya tidak efektif maka BPOM tidak akan mengeluarkan izin edar ke masyarakat,”paparnya. Ada kemungkinan khasiat vaksin COVID-19 menyamai efektivitas dalam uji klinis. Ketidaksesuaian ini terjadi karena orang yang mengikuti uji klinis bukanlah cerminan sempurna dari populasi dunia. Artinya, di dunia nyata ada orang yang memiliki sejumlah masalah kesehatan kronis yang dapat mengganggu kinerja vaksin.

Comments are closed.