Fatwa Mui

Written by Lesai on July 22, 2020 in Efek vaksinasi covid with no comments.

Namun hari ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan akhirnya memastikan BPOM boleh dan aman untuk digunakan. “Itu satu, dan kalau virus dari sel mamalia berarti harus pakai sel mamalia, ini bukan untuk virus COVID aja tapi virus apapun,” tambahnya. Hal ini pun tertuang dalam dokumen AstraZeneca dan tim Oxford yang melakukan uji klinis. Jadi menurutnya, vaksin Covid-19 AstraZeneca menggunakan enzim yang berasal dari jamur. Perlu diketahui vaksin yang beredar sudah tentu harus melewati berabagai tes dan pengujian, diharapkan aman saat digunakan.

Pada proses itu, pada dasarnya tidak ada persentuhan lagi antara tripsin dan virus, karena tripsin ini hanya sebagai media tanam. “Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” kata pihak AstraZeneca lewat e mail yang diterima Kompas. Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya.

Meski demikian MUI menyatakan vaksin AstraZeneca mubah untuk digunakan atau dibolehkan karena dalam kondisi darurat pandemi Covid-19. Perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca buka suara terkait klaim yang menyatakan bahwa vaksin virus corona buatannya mengandung bahan turunan dari babi, sehingga haram untuk digunakan bagi mereka yang beragama Islam. Ahmad menjelaskan dalam proses pembuatan vaksin dibutuhkan enzim tripsin untuk pisahkan inang virus. Sumber tripsin yang mendukung perkembangan partikel protein paling tepat berasal dari enzim babi.

“Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” sambungnya. “Pada semua tahap proses produksi, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan atau bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” kata Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, dalam sebuah pernyataan. “Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” lanjut AstraZeneca. Penjelasan LPPOM MUI ini muncul setelah pihak AstraZeneca mengeluarkan klarifikasi bahwa vaksin buatannya tidak bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya. Dalam keterangannya, AstraZeneca menyebut vaksin yang mereka produksi adalah vaksin vektor virus yang tidak mengandung produk berasal dari hewan, seperti yang telah dikonfirmasikan oleh Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris.

“Pemerintah wajib terus mengikhtiarkan ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci,” ujar Niam. meski ada unsur babinya, namun karena hal ini darurat, maka itu menjadi halal. Hingga nanti menemukan vaksin yang tidak menggunakan tripsin dari babi, maka vaksin yang ada hari ini tetap halal. dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah, dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar. Jadi hukum haram tidak hanya dipandang dari kandungan bendanya, tetapi juga pada proses maupun manfaatnya,” terang Dr. Atoilah.

“Saya kira kalau poin yang ini kurang cocok untuk diimplementasikan dalam vaksin. Selama itu tidak melanggar akidah intinya, boleh,” jelas Epidemiolog yang juga memiliki pemahaman mendalam mengenai agama Islam ini. Lebih lanjut ia juga mengatakan kebijakan serupa pernah diterapkan MUI saat memutuskan izin penggunaan halal vaksin meningitis. “Apabila efek samping yang ditimbulkan dari vaksinasi ini cukup besar, maka vaksin itu menjadi haram. Misal, setelah divaksinasi akan menyebabkan kanker. Itu tidak boleh,” tukasnya.

Diantaranya seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan oleh para Muslim. Asrorun menyebut vaksinasi saat ini adalah suatu yang yang mendesak atau darurat harus cepat dilakukan untuk mengendalikan pandemi Covid-19. RIAUONLINE, PEKANBARU- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir menyampaikan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat di Riau masih menggunakan vaksin Sinovac.

Kelima, Pemerintah tidak memiliki keleluasan untuk memilih jenis vaksin Covid-19. Ia memaparkan, setidaknya dalam proses pembuatan vaksin itu ada tiga hal yang harus diketahui. Hasil evaluasi khasiat keamanan berdasarkan hasil uji klinis, aman dan dapat ditoleransi dengan baik,” ungkapnya.

Bos maskapai Australia Qantas Airways, Alan Joyce mengatakan “pemerintah akan mendesak” sertifikasi vaksin Covid-19 untuk pelancong internasional. “Banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan oleh para Muslim.” Setelah itu, sambung Muti, Auditor melakukan penelusuran media yang digunakan sesuai dengan temuan di publikasi ilmiah.

Vaksin Astrazeneca babi

Alucia Anita Artarini, menegaskan bahwa produk jadi vaksin AstraZeneca tidak mengandung babi. Menurut dia, dalam tahap produksinya, AstraZeneca tidak menggunakan bahan yang sumbernya dari babi. AstraZeneca menyebut, vaksin ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewan lainnya. Lalu, pada 24 Februari, LPPOM MUI melakukan audit di Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam mengkaji bahan dan proses pembuatan vaksin tersebut melalui dokumen dossier yang dikirimkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia PBB . Dari dokumen itu, proses dilanjutkan dengan kajian publikasi ilmiah AstraZeneca dan penelusuran media yang digunakan pada publikasi itu melalui situs.

Comments are closed.